Dulu Bertaruh Nyawa di Tambang Ilegal, Kini Menyemai Harapan di Bibit Pohon dan Telur Puyuh

M Zailani mantan penambang PETI, kini lebih memilih hidup tenang dengan berusaha membesarkan bibit pohon dan menjadi mitra binaan PTBA.--
KORANENIMEKSPRES.COM---Hampir dua tahun ini, cangkul, tanah dan bibit pohon sudah menjadi bagian dari pekerjaan bagi M Zailani.
Lelaki asal Desa Tanjung Karangan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, itu kini menghabiskan waktunya merawat bibit pohon yang tumbuh dan perlahan membesar di bedengan plastik.
Ia tak lagi bersembunyi dari aparat, tak lagi berpeluh di lubang tambang Batubara ilegal/Penambangan Tanpa Izin (PETI).
Hidup Bertaruh Nyawa di Tambang Ilegal, Hidup Lebih Tenang
Sekitar satu dekade lalu, Zailani hanyalah satu dari sekian banyak penambang batubara ilegal yang menggantungkan hidup di tanah galian.
Ia tahu betul resikonya—tertimbun longsoran mempertaruhkan nyawanya, terkena razia aparat.
Namun, demi asap dapur tetap mengepul, ia dan rekan-rekannya memilih bertahan di pekerjaan yang penuh bahaya itu.
“Kalau tidak ke bekerja di tambang ilegal, keluarga makan apa?” kenang Zailani dikala itu.
Hampir dua tahun ini, Zailani lebih memilih jalan baru menjadi mitra binaan PTBA, dalam pembibitan dan pembesaran pohon.
“Pekerjaan ini lebih menjanjikan jauh dari risiko. Kita hanya menyemai dan merawat hingga besar, PTBA ambil dan membeli,” ujar Zailani.
Hidup yang serupa juga pernah dijalani Agung Aprianto. Bertahun-tahun ia menjadi ojek tambang, kuli angkut, hingga penggali ilegal. Pernah sekali, kenangan getir itu datang: dikejar aparat saat tengah mengangkut karung Batubara ilegal.
Kini, kisah hidup mereka berbelok arah. Bersama belasan mantan penambang Batubara ilegal lain, Zailani dan Agung memilih jalan berbeda.
Mereka menanam harapan di tanah yang sama, tapi dengan cara baru: melalui Program Eco Agrotomotion, bagian dari Desa Impian PT Bukit Asam (PTBA).