Baca Koran Enim Ekspres Online

Di Balik Luas 14 Ribu Km², Muba Simpan Ambisi Besar Menjadi Daerah Terdepan

Di Balik Luas 14 Ribu Km², Muba Simpan Ambisi Besar Menjadi Daerah Terdepan--

KORANENIMEKSPRES.COM,---Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) di Provinsi Sumatera Selatan bukan sekadar wilayah administratif dengan luas 14.265,96 kilometer persegi.

Daerah yang beribu kota di Sekayu ini menyimpan jejak panjang sejarah sekaligus ambisi besar untuk melesat lebih cepat dalam pembangunan.

Dengan jumlah penduduk mencapai 707.290 jiwa pada akhir 2023, Muba menjelma menjadi salah satu kawasan strategis yang menyumbang sekitar 15 persen luas wilayah provinsi.

Lanskapnya didominasi rawa, sungai, dan dataran rendah, membentuk karakter wilayah yang sejak dulu lekat dengan jalur perdagangan air.

BACA JUGA:Pemkab Muba Usulkan 2 Exit Tol Baru di Jalur Tol Betung - Jambi

Nama Musi Banyuasin sendiri merujuk pada dua sungai besar yang menjadi nadi kehidupan masyarakat: Sungai Musi dan Sungai Banyuasin.

Pada era kejayaan Kerajaan Sriwijaya, kawasan ini telah menjadi bagian dari jejaring dagang penting di Asia Tenggara. Kapal-kapal niaga mengangkut emas, rempah, hingga hasil hutan melintasi perairan tersebut.

Memasuki masa Kesultanan Palembang Darussalam, struktur pemerintahan adat berkembang.

Tokoh lokal seperti depati dan pasirah memainkan peran sentral dalam mengatur kehidupan sosial. Tradisi kepemimpinan berbasis kearifan lokal ini membentuk fondasi karakter masyarakat Muba hingga kini.

Dari Kolonialisme hingga Kabupaten Otonom

BACA JUGA:Muba Tak Terkejar! Inilah Rahasia Kabupaten Penguasa Sawit Terbesar di Sumsel

Abad ke-19 menjadi babak penuh tekanan ketika Belanda menancapkan kekuasaan. Perkebunan karet dan eksplorasi minyak mulai digarap besar-besaran.

Infrastruktur dibangun bukan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan demi kepentingan industri kolonial.

Situasi makin berat saat pendudukan Jepang pada 1942–1945. Eksploitasi sumber daya dan kerja paksa meninggalkan luka sosial yang dalam.

Namun, semangat perlawanan tak pernah padam. Pada masa agresi militer Belanda, hutan dan rawa Muba menjadi basis gerilya para pejuang.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan