BACA JUGA:Palembang Jadi Simpul Logistik Baru, Pelabuhan Internasional & Tol Raksasa Dongkrak Ekonomi Sumsel
Berkat beasiswa Bidiksiba, Aji menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Karier profesionalnya dimulai sebagai staf HRD di sebuah perusahaan tambang swasta.
Meski gaji menjanjikan, hatinya justru terpanggil ke arah lain: hukum dan pengabdian.
"Tahun 2021 saya ikut seleksi ASN. Setelah hampir empat tahun meninggalkan materi hukum, saya harus belajar lagi dari nol. Berat, tapi justru di situ saya belajar kesungguhan," katanya.
Hasilnya tidak main-main: Aji dinyatakan lolos sebagai hakim di Mahkamah Agung (MA) RI.
Perasaan yang menyergapnya campur aduk—bahagia, terharu, sekaligus penuh syukur.
"Tidak pernah saya bayangkan anak seorang tukang kebun bisa sampai di sini," ucap Aji yang kini tercatat sebagai mahasiswa Magister Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya
BACA JUGA:Bukit Asam (PTBA) Ajak Siswa SD Peduli Lingkungan Lewat Green School
Nilai yang Dibawa Hingga ke Kursi Hakim
Bagi Aji, Bidiksiba bukan sekadar beasiswa, melainkan "pintu" yang mengubah hidupnya.
Bekal skill (keahlian), kepemimpinan, dan integritas yang ditempa sejak kuliah kini ia bawa dalam setiap putusan di ruang sidang.
"Hakim bukan sekadar profesi, tapi amanah. Integritas adalah harga mati," katanya tegas.
Ia sadar benar, keberhasilannya adalah buah dari doa orang tua, kerja keras, serta kesempatan emas yang ditawarkan PT Bukit Asam.
"PTBA bukan hanya menggerakkan ekonomi, tapi juga menyalakan harapan lewat pendidikan. Apa yang mereka lakukan membuktikan, korporasi punya peran strategis membangun bangsa," ujar Aji.
BACA JUGA:PTBA dan Desa Karang Raja - Kolaborasi Tangguh Wujudkan Proklim Lestari
Mimpi yang Belum Usai
Kini, selain mengabdi sebagai hakim, Aji sedang menempuh studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya. Ia bercita-cita suatu saat bisa mengajar, membagikan ilmu sekaligus mencetak sumber daya hukum berkualitas. "Saya ingin berperan ganda, sebagai praktisi dan akademisi," katanya.